95% Kaum Milenial Terancam Jadi ‘Gelandangan’ di 2020

95% Kaum Milenial Terancam Jadi ‘Gelandangan’ di 2020

 

shutterstock.com

ABEelite.com – Menarik sekali jika membicarakan tentang gaya hidup generasi milenial ini. Dengan kehidupan yang serba mudah, informasi yang melimpah dan segudang kemudahan lainnya dengan dukungan kemajuan teknologi yang tak terbendung dengan segala macam inovasinya.

Semua fasilitas diberikan dengan adanya start up yang jeli melihat kebutuhan pasar generasi milenial ini. Mereka dimanjakan dengan segala sesuatu yang serba dalam genggaman, pengen ini-itu tinggal buka smartphone. Dalam sekejap semuanya bisa terpenuhi.

Siapa itu generasi milenial?

Generasi Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Dengan segala dampak positif yang dialami generasi milenial, tidak menutup kemungkinan terdapat sisi gelap yang tak boleh dikesampingkan oleh mereka. Mereka harus diingingatkan bahkan ditampar jika perlu. Ya sisi gelap yang sangat mengerikan akan terjadi pada mereka, tidak sekarang memang, tapi menunggu sekitar lima tahun dari sekarang. Sisi gelap itu akan muncul kepermukaan.

Apa sih sisi gelap yang akan dihadapi generasi milenial lima tahun yang akan datang?

Biarkan postingan dari status facebook Faisal Adlan berikut yang akan menjelasknnya untuk Anda.

95% Kaum Milenial Terancam Jadi ‘Gelandangan’ di 2020

Itu judulnya. dan Saya kebetulan lahir di tahun 1986 , jadi termasuk… berhubung Saya termasuk dengan kaum yangg disebut2 itu alias golongan kaum milenial.

begini ya tuan tuan tanah yg mulia… hahahaa…
anda jual barang untuk luas 100m2, itu udah pada 1,2m keatas
taruh lah punya cash 1,2M. Kita flashback ke jaman dulu waktu papah saya masih kerja ya…

Generasi Baby Boomers (Gen X)

Jaman papa saya tahun 1985, Dia kerja di perusahaan. Pergi jam setengah 7 pagi sampai kantor jam 7, pulang nya jam 5 itu bener2 udah di rumah. Itu lah yg Saya lihat Papa Saya di tahun 1991-1998, pas sore sempat main dengan Saya, kadang Saya ikut dengan Mama Saya ke kantor Papa Saya, lalu makan barulah pulang.

Mama dan Papa Saya cerita, jaman dulu itu hidup pilihan, mau punya mobil 3 bergaya pamer dengan tetangga atau sodara, atau rumah 1, mobil satu? mana yg lebih dulu. mana yg lebih penting, jelaslah Papa Saya pilih membeli rumah dari hasil Dia bekerja.

Papa Saya menikah dengan Mama Saya umur 33 tahun dan Mama Saya berusia 27 tahun saat itu, diusia Papa Saya menikah, dia sudah memiliki rumah, di Pondok Aren seluas 200m2, dengan harga 5 juta rupiah, di cicil 15 tahun, dari fasilitas kantor, itu dibeli tahun 1982, pada saat tahun 2000 Papa Saya memperlihatkan cicilannya hanya 75ribu rupiah perbulan, x sekian itu sampai lunas. lewat koperasi kantor.

Disaat yg bersamaan jg setelah menikah,, (33 tahun itu sekitar 15 tahun bekerja) karena Papa Saya dari umur 18 tahun sudah bekerja, dan kuliahnya juga sambil kerja, sampai lulus kuliah dia udah kerja pengalaman 5 tahun lebih.

2 tahun setelah Saya lahir sekitar tahun 1988, dia membeli rumah keduanya di daerah Pondok Indah seluas 120m2, seharga 35 juta rupiah.

Ini sudah menjadi cerita keluarga saya, 35 juta itu, cash bayar 15 jt, minjem saudara 10 jt, sisanya 10 jt nyicil 10 tahun dari fasilitas kantor, artinya papa saya bayar 25 juta, dan 10 jt itu dicicil dari kantor, karena kantor emang ada jatah beli rumah 10jt saat di tahun 1998 lunas.

Cash 15 jt itu pun didapat dari jual tanah di cinere (tadinya mau bangun rumah di cinere luas tanah 300m2) dia beli tahun 1980, dijual sekitar harga 7,5 jt.

Image may contain: 1 person, standing and child
Doc FB Faisal Adlan

Mobil keluarga kami saat itu 1 biji, Coronna TT itu ada fotonya yg merah, saya berfoto dibelakang. jadi sejak tahun 1988 Papa Saya memiliki 2 rumah, dan 1 mobil, Papa Saya bukan insinyur, tapi sarjana ekonomi yg bekerja di perusahaan multinational company bernama Caltex.

Di saat Papa Saya umur 36 tepatnya akhirnya Dia memiliki aset dari dirinya sendiri yaitu 2 rumah dan 1 mobil, saat itu tidak ada yg namanya gadget, fokus keluarga kalau sudah weekend adalah berliburan ke puncak, ancol, atau ya nonton tv Doraemon itu lah yg Saya lakukan.

18 tahun bekerja, Papa Saya mendapatkan 2 aset tsb, dan 1 kendaraan, ditotal bererapakah? aset saat itu , sekitar 50-60jt. punya 2 rumah, 1 mobil, pekerjaan dengan jenjang karir yg cemerlang, serta Mama Saya resign dari kantor dan mengurus rumah tangga.

Dikala itu tidak ada abuse yg kejam dari harga2 landlord(Tuan Tanah), pegawai kantoran biasa bisa membeli rumah dengan bekerja jam 7 sd jam 5 sore, pulang bisa ketemu anak, dan Mama Saya pun mengurus Saya,, dan adik Saya, alias tidak ikut2 mencari nafkah.

Melihat tracking Papa Saya dahulu saya jelas jauh ingin lebih baik dari Papa Saya, walaupun Papa Saya terbilang sukses membina keluarga dari segi keuangan, moral, pendidikan, segalanya sudah all out.

Saya pribadi menikah di usia 25 tahun, dimana saat itu Papa Saya menikah di usia 33 tahun, sejak umur 20 saya sudah mengurut2 mencicil apa saja yg akan di butuhkan dan yg akan di beli ketika saya akan menikah nanti, jadi pas masih jadi mahasiswa saya sudah beli microwave, hahahahaa,

Emak gue ketawa2 mahasiswa beli microwave buat apaan? eh abis itu beli kulkas, wahahah giliran bokap marah2, sinting lu, umur 21 taun beli kulkas mau taruh dimane? , semua perabot2 rumah tangga saya sudah saya cicil 40% sejak saya pacaran.

Begitu juga laptop, komputer kerja, kursi, ac, rice cooker, tv lcd tipis itu juga sudah saya cicil pas jadi mahasiswa.

Soalnya kebayang aja habis merit, pesta semalam meriah, trus denger ayam berkokok gue ditodong beli semua perabot, lah bangrkut lah,

1 yg saya beli dari hasil kerja saya sendri sebelum nikah, tentunya mas kawin dan cincin pernikahan saya dan istri, tapi sorri2 perabotan semua udah gue cicil dari umur 20 taon, nikahnya umur 25 taon wkwkkwkwk…..

Di titik itu jelas gue udah jauh loncatnya di atas bokap gue, 8 taun lebih cepet merit, perabot semua lengkap dll.

Walaupun begitu masih ada aja yg belum dibeli pas waktu bujangan juga, sampe pemanas air mandi jg gue udah beli pas mahasiswa hahahahaa.

Orang2 dugem, sehari habis ratusan ribu bahkan jutaan mendingan gue beliin pemanas aer mandi lah, karena gue paham betul ketika merit, gue langsung harus cabut dari tempat ortu gue,, dan menata hidup dengan istri di rumah yg kita tinggalin bedua, biar bebas gitu loh coba sana sini, hahahaa

selesai cerita sampai disana , kita loncat ke jaman now, yg saya alamin.


Pilihan Generasi Milenial

Jaman sekarang untuk luas 120m2, di area kisaran BSD Bintaro Jakarta , mintanya pada RP. 1,5M kurang2 dikit pun 1M. alias 1000 juta rupiah.

1000 juta itu terpencar beberapa opsi,
kalau jaman papa saya punya 3 mobil gk punya rumah ya namanya kebanyakan cingcong alias kebanyakan gaya.

Jaman sekarang untuk rumah seluas 100m2, kita harus menukarkan uang 1,2m yg kita punya,

Tau artinya 1,2M?

100jt x 12 = 12 mobil bekas yg dimiliki dari seorang pemilik showroom yg mana dari 12 mobil itu mungkin sebulan dia bisa berniaga dan menghasilkan pendapatan, atau kalau main mobil bekas isi 200jt, ada 6 unit, harus diserahkan dan direlakan demi sebuah sangkar 100m2 seharga 1,2M, lalu modal habis.

Bagi para pedagang pun masa ia sih cari uang 50 juta sebulan dari 1M gk bisa? itu keuntungan sebulan hanya 5% loh, nah maka wajar sekalipun orang mampu beli 3 mobil seharga 300jt pun, ya rumahnya gk kebeli, karena kalau dijual semua itu mobilnya mana kebeli rumahnya , kurang 300jt,

Nah logika lain lagi adalah, kalau anda punya uang 3M, ada rumah dijual luas 100m2 seharga 1,2M, pilih mana,
A.bayar dengan 1,2M atau B. bayar dengan 1.6M? karena 400jt itu uang bunga pinjaman kpr.

Ya seseorang yg punya 3M cash akan langsung memilih 1,2M bayar langsung beres, lagian ngapain jg malah keluarnya 1,6M ? wong rumah nya itu jg yg dibeli sama.

Lah, bagaimana dan dimana logikanya bisa udah lah gk ada uang, lalu bisa2nya yakin anda menarik pendapatan dari masa depan anda, untuk membayar seharga 1,6M ? mampu aja enggak, di 1,2M lagak2 an lagi mau bayar plus bunga di 1,6M finalnya.

Ya ya ya marketing2 itu bilang, eh besok naik loh? kan tanah dan bangunan makin lama makin mahal ! , mending lu cicil deh.

Hahahahahaa, mata saya melihat, lingkungan sekitar saya di daerah bintaro sektor 7 sd 9 itu banyak banget yah, landlord itu demen miara mahluk alus, lu boleh sih pasang harga luas 225m2 di harga 4,4M, sd 5M keatas, 120-140M2, itu di angka 2,2m sd 2,5m , monggo.

Fenomena ini sudah Saya amatin dari 2012, dan sampai sekarang bukannya makin sedikit rumah kosong, malah makin banyak, mulai dari yg bangunannya baru sampai yg udah super ambruk.

Simple, orang udah gak kebeli, dan ada logika lain, seperti mendingan bikin showroom deh modal 1,5M, lalu 1,5M lagi jadiin 2 apartment , 1 kontrakin 1 lagi kontrakin jg, nah kita tinggal deh ngontrak juga tp yg deket dengan showroom usaha kita, ataupun di apartement itu aja karena harganya 800jt kan.


Pemikiran Generasi Milenial

Jaman sekarang generasi milenial, harus bekerja keras dan kerja pintar, membuka banyak keran, pendapatan, pintar menjaga network, kepercayaan dan kejujuran, serta banyak berteman di komunitas, dan terus melihat peluang.

Sorry ya generasi milenial itu bukan gak mampu beli rumah, cuman sekarang emang banyak alternatif , ketimbang jadi 1 rumah 2M, itu banyak alternatif2nya, dan di daerah jawa pun malah bisa usaha makanan, kos kos an, komplit sudah dengan rumahnya, ada juga yg bisnis rental transportasi, dll.

Oh ia, sekarang serba digital dan serba online, generasi milenial pegang semua bisnis bisnis berbasis online, yg elu elu generasi tua kagak bakalan ngerti, ada bukalapak tokopedia gojek, belum yg kecil2nya, sekarang dimana2 macet, kita kerja remote.

Kita tau angka yg harus kita kumpulkan adalah 40juta sebulan tanpa di apa2in lalu kita kali kan 60 , hahaha itu pun baru 2,4M. kita ngerti kok hitungan2 itu , dan beberapa generasi milenial jg pada beli produk2 semacam asuransi, reksa dana, investasi, ada yg main online shop, ada yg macam2 lah pokoknya…

Kita generasi milenial gak akan ikut kepermainan yg modelnya begini :
duit minta ortu, + duit minta mertua + duit kerjanya istri + duit kerja suami, trus masih kurang pulak untuk bayar rumah 1,2m seluas 100m2, kena bunga lagih, hahahaha… permainan2 landlord seperti itu , hanya akan membuat kita generasi milenial tersedot uang2 dan segala kemampuan sumber modal yg kita punya..

Kita masih waras cari uang 50 jt sebulan itu dengan 500 jt modal ya bisa, kalau berat dengan 1M modal ya bisa juga, lah kita juga tau pendapatan 16 jt sebulan seperti yg ditulis di artikel tsb memang bukan hal yg wah, kita setting mindset yg cukup, 45-60jt keatas. Perbulan, okeh kita terima tantangan itu, dan tanpa harus memforsir istri ikut2an kerja nyari uang, atau kalau istrinya suka kerja juga ya monggo, tp kita cowok2 yg berada dalam generasi milenial, merubah pola, karena kita tidak bisa di pungkiri kita harus spent dulu banyak hal sebelum ke rumah yg landlord minta itu.

100jt aja itu udah lumayan loh, untuk kita spent mulai dari beli 2 perabot, kulkas, tv, hp, laptop kerja, pakaian, dll… untuk alat perang.

Jadi polanya sudah berbeda , tapi sorry2 jangan di cap sebagai generasi gelandangan, kita tau arah, dan bumi ini di ciptakan bukan untuk menyiksa diri untuk menebus lahan kebebasan seluas 100m2, jadi sepengamatan saya banyak juga generasi milenial yg memilih jalannya masing2, yg penting ujungnya kita tau kan, 20 jt sebulan x 60 bulan itu gak boleh di apa2in lalu dor, jadilah rumah tinggal, hahahahaa, dan kalau plus2 dengan bunga jadi 1,7M sih mendingan 500jt nya buat apaan gitu kek…

Mungkin itu tanggapan saya tentang generasi milenial, kita bukan menyedihkan, tp kita biarin aja itu property lagi pada bubbling, isinya banyak kunti sama mahluk alus nya deh sekalian, landlord ini lebih suka lihat mahluk astral tinggal di propertynya secara gratis ketimbang kemanusiaan, dimana manusia2 dan keluarga mengisi property dan mulai hidup selayaknya manusia….

Saya pribadi sebagai generasi milenial, sangat2 confident dan punya cara sendiri untuk mengatasi yg begini.hahaha..

Memang Saya akui saat ini walaupun usaha jalan, team yg kerja jg ada, roda dagang jelas, diumur gue yg ke 31 saat ini gue udah gak mikirin lagi beli2 komputer peralatan gadget, kamera hp, mobil, karena sampai checkpoint di umur 31 ini gue sudah mensetting segala yg gue dapat, untuk siap berperang lebih lagi biar akhirnya gue menaklukan properti di kawasan elit, bintaro, agak geser dikit aja dari sektor 9 geser ke sektor 7, nah itu kawasan elitnya tuh bro, itu udah idaman gue banget, harganya kisarannya 4,5m -5,5m, gue saat ini kumpulin spirit, kumpulin tenaga, kumpulin waktu dan pikiran, bersama istri, kuatkan mindset, mental, untuk menaklukan daerah elit yg menjadi idaman gue dan istri, dan jelas gue gak mau dikerjain sama yg namanya RIBA, jujur yah daripada bayarin bunga mending gue liburan sekalian deh habisin 300jt 300jt deh, lagian capek sekali udah itu tidur pulas, kalau gak dikejar 15 taon wadoh, mending keras aja deh hitungannya kalau 4,5M itu 50 jt x 90, gk boleh di apa2in.

Dan gue persetan mau marketing bilang besok harga naik besok harga baik, GUE CARINYA YG ORANG BU! UDAH KAGAK TAHAN KOSONG 10 taun itu rumah hahahahahaha so what?

selama ini gue hanya bisa diam saja di antara teriakan2 orang bilang mending nyicil2 aja nanti lama2 gak kebeli,, wkkwkw justru gue nangkapnya

–> nyicil –> nyicil –> gk kebeli –> disita

Ya ya ya gue tau semua ada insurancenya ketika debitur gagal bayar itu aman kok, what ever, di umur gw ke 31 saat ini,, masih berkutat dengan membuka keran yg lebih banyak lagi, jangan sampai kita yg diperbudak uang, tapi kita lah yg harus menaklukan uang, dan Tanah dari bumi ini adalah milik manusia, sudah disediakan oleh sang pencipta, so persetan dengan 50 jt per m2, kek, 100jt per m2, ada titik kewajaran.

Begitulah kawan2 ku sesama generasi milenial yg menetap di jabodetabek.

Begitu saya berlibur ke pangkal pinang, contohnya, uang 1M mah bisa dapat rumah 300jt, luas 150m2, plus mobil nya ya 100jt lah cukup atau kalau mau kece dikit 160jt an, total kan udah 460jt, nah bakal motor, sama modal usaha 500jt oke lah, 1M tuh udah deh hahahaa…

Hati2 hengki pengki di jabodetabek, jangan ikutan gila yak, tetap berpikir waras dan lihat celah secara jeli, nah saya juga tertarik memantau komentar teman2 semua baik itu dari generasi milenial ataupun bukan, untuk nambah wawasan dan brainstorming pendapat.

Oh iya 1 point lagi ini kita bicara fair fairan mengenai RUMAH yg PURE dari hasil kerja sendiri lho yah, RUMAH dari ORTU atau MERTUA , atau WARISAN gak di itung … kwkwkwkww

Dan mungkin ini bisa sampai kepada para landlord biar nurunin harga property 30 sd 40 persen dr harga listing saat ini.. kasian itu agent2 marketing gak closing2 lho itu kwkwkwkkw… atau malah mau di naikin lagi? Jadi 20 persen dr harga listing gara2 baca tulisan saya ini?.. biar makin banyak mahluk alus tinggal di hunian idaman dr para landlord?.. saya kangen lho denger iklan besok harga naek.. atau senin harga naik…

Saya pribadi gak mau dibawa ke mang karta.. terdengar seperti kalah menaklukan landlord untuk sekavling tanah 250m2 an… Anda juga malah suka bikin luas 60m2 itu kesana mentok kesini mentok begitu punya anak 2 trus anda memaksa kita beli yg gede an.. lah dari awal Anda udah bikin skema semacam itu ya ogah lah ikutan permainan para landlord…

Anda tau Kami waras n mampunya di titik 600 700jt lalu dititik itu yg wajarnya luas 140m2 lalu anda bagi2 biar profit 2x jd pecah di 65m2 an.

Hahahhah gue mah ogah..

Itu bicara rumah sekarang bicara ruko, daerah bintaro harga udah 4M keatas, alias 5M an…

Bisa emang lo beli ruko itu trus jualan buka usaha makanan gitu disana? nilai ekonomis si rukonya udah hilang.


Oh iya sampai di umur gue 31 taun 2 bulan saat ini, alhamdulillah, yg namanya kendaraan roda 4, kebutuhan perangkat smartphone, laptop kerja, team, taraf hidup jg udah baik, gue berjuang berdua sama istri, dan pastinya didukung dengan doa kedua mertua gue, dan nyokap gue, karena bapak gue udah meninggal 2 tahun lalu, kebutuhan dan simpanan udah ok, modal dagang jg ya lumayan lah, gue gk akan mau nyerahin gitu aja ke landlord, then ive got nothing to do, jadi gue akan memakai taktik dan gaya yg berbeda, untuk urutan nomor 1 , gk mesti punya di jakarta dulu khan? indonesia ini luas loh….


Terakhir, generasi milenial jg harus waspada, jangan sampai aset dari keturunan generasi loe sebelumnya malah di caplok sama si landlord, karena elu BU, gk punya duit, kerjaan luntang lantung, pendapatan suram, akhirnya lu jual aset dari orang tua loe, itu namanya kebobolan gawang, landlord win.

Generasi milenial, adalah generasi hebat, kita hidup di antara dunia analog dan digital.

Oh iya urusan mati nih, mati itu gak bawa apa2, lo pastiin bener gak bawa riba, bunga ngutang lo , dan dalam konsep mati gk bawa apa2, lo pastiin juga lah pas mati, loe ninggalin buat orang yg hidup banyak hal yg berguna, gk harus materi tp ilmu atau apapun itu.

Buat gue mati gak bawa apa2 kecuali amal pas hidup, tapi bukan berarti berkonotasi kagak usah kerja keras pas hidup didunia, justru pas mati gak ninggalin repot buat orang yg hidup, bahkan memberi kemudahan bagi yg hidup dan, juga pastiin kagak ada utang apalagi RIBA, dari beli properti yg udah lah kgk mampu mau2an di utangin, mental harus keras bos, cash!.

Saya tidak merasa kesal dan mengeluh terlahir sebagai generasi milenial, Saya justru bersyukur bisa merasakan konversi analog ke digital, dan ini sangatlah menarik.

kita generasi milenial, kita juga ngerti kalee apa yg lo jual, apa yg akan gue beli, apa yang akan gue singkirkan… h h h h h lu jual sangkar burung untuk hidup manusia sekeluarga bos, makanya kagak ada yang mau, yang hidup justru mahluk astral banyak noh..


Lagian dikira kita gak paham modal bangun rumah luas bangunan 140m2 itu berapa juta? coba tanya2 aja anak2 daerah, kan semen keramik, lantai, pondasi, pipa, kaca, kayu, material semua berapa juta per m2, paham kale bos kita… makanya ogah justru ikut permainan elu landlord2.

Saya tidak sampai hati kalau saya harus terjerumus untuk dan sanggup membayar cicilan beserta bunganya yg kalau di total2 ratusan juta urusannya, tapi menomor dua atau menomor tigakan orangtua, karena dikepala prioritasnya adalah bayar cicilan rumah, dan bunganya ya tentunya.. duh amit2 deh ya kalau sampai menelantarkan orang tua yg sudah tidak produktif lagi, inget inget dari kecil dibesarkan orang tua bukan dibesarkan oleh bunga pinjaman masbro!

F.A
Silahkan di share , artikel ini saya tulis sendiri mungkin temen2 generasi milenial sependapat.

Ternyata dari tulisan Faisal Adlan di atas, masa depan generasi milenial tidak segelap haedline-headline yang dikabarkan surat kabar mainstream.

Mereka paham betul dengan kehidupan yang mereka jalani, bahkan mereka teliti dalam memetakan semua alternatif sebelum mengambil keputusan untuk menjalani kehidupannya dengan keluarga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *